Selasa, 09 Februari 2010

Menghormati Uang

Uang bukan segalanya, tapi setiap orang dalam kehidupan ini membutuhkan uang dalam menjalani hidup dan tidak heran bila uang dapat mengakibatkan perselisihan, kebahagiaan, bahkan kematian kepada yang memilikinya. Berbagai cara dilakukan orang-orang untuk mendapatkan uang tersebut. Entah dengan cara halal atau bahkan dengan tidak halal. Setiap tempat, daerah, dan agama, memiliki suatu keyakinan terhadap mujisat uang baik secara ekonomis atau dengan kata lain selain sebagai nilai tukar ekonomis, uang merupakan simbol terkait adat & kepercayaan, sehingga uang menjadi salah satu kelengkapan hubungan sosial antara sesama manusia, dengan alam, juga kepada yang maha gaib.

Melihat tradisi di Bali tentang adanya suatu upacara khusus terhadap pemujaan uang yang jatuh pada Rabu Wage, Wuku Klawu atau lebih dikenal Buda Cemeng Klawu yang jatuh setiap 210 hari sekali.
Perayaan Rairan/Hari Raya Suci/Piodalan Sri Rambut Sedana atau lazimnya sering disebut Rambut Sedana memiliki pengertian secara harfiah, “Sri” yang berati uang, dan “Sedana” berarti uang atau dengan kata lain bagian dari nafkah yang perayaannya dilakukan di setiap rumah tangga.

Untuk itu, perlu kiranya kita menghormati uang dalam kehidupan ini, sehingga nantinya dapat memberikan aura positif sehingga uang yang dihasilkan tersebut dapat memberi hasil yang maksimal dalam kehidupan guna menunjang berbagai kebutuhan hidup yang semakin kompleks. Memiliki banyak uang menjadi suatu ukuran kesuksesan yang dinilai oleh sebagian besar orang didunia. Namun perlu dicatat, bagaimana orang tersebut memperoleh uang, menggunakannya, terutama untuk kesejahteraannya sendiri termasuk terhadap sesama dan lingkungan sekitarnya.

Saatnya kita ikut berbagi dengan yang kita miliki, walau sedikit, namun akan menjadi suatu hal yang berharga, karena uang yang kita miliki tersebut tidaklah kekal adanya.


Selasa, 02 Februari 2010

Cara Menyelesaikan Masalah

Dalam pengalaman saya bekerja dan berinteraksi dengan banyak orang, saya amati ada dua tipe orang dalam menghadapi masalah atau problem, baik di pekerjaan maupun kehidupan sosial. Dua tipe ini adalah reactive (bereaksi begitu masalah datang) dan receptive (mau menerima masalah).

Pendekatan Reactive

Mereka yang reactive biasanya melihat suatu masalah sebagai ancaman. Entah ancaman terhadap karirnya, bisnisnya, keluarganya, dan sebagainya. Dalam kelompok ini Anda mencari solusi terhadap masalah dengan menggunakan pendekatan logis dan tradisional. Ciri-cirinya:

  • Begitu masalah datang Anda cenderung segera mencari cara apapun untuk mengatasinya.
  • Masalah dilihat sebagai faktor penghambat perkembangan diri.
  • Anda akan segera menyusun strategi untuk menghadapi masalah
  • Karena masalah dilihat sebagai ancaman, dia akan mendominasi pikiran dan cenderung menyebabkan kecemasan dan stress.
Apabila Anda bekerja di perusahaan, barangkali Anda pernah diminta untuk memimpin suatu proyek dimana Anda bertanggung jawab untuk mencapai target tertentu. Disini Anda dihadapkan dengan situasi yang membutuhkan analisa, justifikasi, dan pemikiran logis dalan menghadapi tantangan atau masalah yang muncul. Anda akan berada dalam kondisi tertekan untuk memenuhi deadline. Bisa ditebak, Anda akan cenderung menggunakan pendekatan reaktif dalam menyelesaikan persoalan.

Pendekatan Receptive

Pendekatan ini biasanya dipraktekkan oleh mereka yang sudah menyadari bahwa masalah bukanlah ancaman tetapi justru konsekuensi yang timbul dari suatu kondisi yang kita ciptakan. Oleh karena itu kita mempunyai kekuatan untuk mengubah kondisi tersebut dari dalam diri sendiri. Anda mau menerima masalah dan pada saat yang sama membuat solusinya.Ciri-cirinya:

Ketika masalah datang, Anda mengenalinya dan menggunakan pendekatan:
  • Masalah merupakan kebalikan dari solusi. Ketika masalah muncul, Anda percaya saat itu juga bahwa solusinya sudah ada.
  • Anda fokus kepada solusi dari persoalan yang timbul, bukan pada penyebab dari masalah itu. Dengan demikian Anda mengambil alih kontrol dari dalam diri Anda sendiri, bukannya dikendalikan oleh keadaan di luar.
  • Masalah merupakan kesempatan untuk pengembangan diri. Anda melihatnya sebagai peluang untuk meciptakan realitas positif dalam hidup Anda.
Mau menerima masalah bukan berarti berdiam diri. Anda tidak ”kebakaran jenggot” tetapi mengenali masalah itu dengan tenang dan membuat diri Anda responsif terhadap semua yang Anda perlukan untuk mengundang solusi.

Contoh yang paling sederhana adalah ketika pasangan yang Anda cintai (misalnya istri, suami, atau pacar) sedang ngambek karena masalah sepele. Dengan pendekatan reactive, Anda hanya akan memperburuk keadaan dengan bertanya-tanya kenapa dia harus ngambek, menganalisa penyebabnya dan merasa kondisi ini akan mengancam keharmonisan hubungan Anda dengannya. Bukannya solusi yang didapat tetapi justru kecemasan dan kekhawatiran.

Dengan pendekatan receptive, Anda menerima dan menyadari bahwa pasangan Anda sedang marah. Anda fokuskan energi Anda untuk menciptakan kasih sayang yang pada dasarnya merupakan lawan dari kemarahan. Anda tidak larut terbawa suasana – mencoba mencari jawaban dari analisa kenapa dia jadi marah – tetapi mengambil alih kendali dari dalam diri sendiri, tetap berpikir tenang, dan menunjukan sikap positif dalam perilaku Anda. Anda akan rasakan bahwa berada dalam situasi ini justru membuat diri Anda berkembang. Anda membuat kualitas positif dari diri Anda muncul ke permukaan dan sudah menjadi hukum alam dengan bersikap seperti ini pasangan Anda niscaya akan berubah dari marah menjadi cinta.

Pendekatan receptive ini bisa Anda praktekkan di kehidupan bisnis, rumah tangga, dan sosial. Intinya Anda membangun keyakinan bahwa masalah tidaklah nyata sehingga Anda tidak merasa terbebani. Latih diri Anda untuk tidak reaktif ketika suatu masalah muncul. Fokuskan diri Anda pada lawan dari masalah, yaitu solusi, untuk menemukan kendali dan bukannya larut dalam masalah itu.

sumber : http://motivasiluarbiasadahsyat.webnode.com/products/cara-menye-saikan-masalah/

Kiat Sukses Menjadi Netpreneur

1. Kecepatan.
Dengan segala percepatan perkembangan teknologi, globalisasi,
dan internet, laju perubahan pun semakin cepat dari yang pernah
dibayangkan. Karena itu, Anda harus bisa mengantisipasinya
dan sanggup bereaksi cepat, tapi juga penuh perhitungan.
2. Kemampuan Beradaptasi.
Laju perubahan yang terjadi pada dunia internet membutuhkan
bisnis yang lebih fleksibel dan adaptif dibandingkan sebelumnya.
Anda harus menambah pengetahuan dan mampu menginterpretasinya,
serta secara cepat merespon perubahan tersebut dimanapun
terjadinya baik dalam teknologi dan kompetisi, juga pada
pergantian pola pasar dan pembeli-.
3. Eksperimen.
Seorang netpreneur harus bersedia mencoba ide-ide baru di pasar
yang dibidiknya. Anda tidak memiliki banyak waktu atau hanya
mengandalkan ‘market research’ yang sudah tidak up to date
untuk mengevaluasi tindakan-tindakan Anda . Eksperimen dan
siap bergerak cepat untuk beradaptasi dengan apa yang
dibutuhkan dan diinginkan pasar kepada Anda .
4. Inovasi Yang Konstan.
Meluncurkan produk ke pasar hanyalah sebuah permulaan.
Dorongan kompetisi yang tak kenal henti dan tuntutan pasar
terhadap perbaikan membuat fokus bisnis pada inovasi sangat
penting.
5. Kolaborasi.
Sudah menjadi sifat dari netpreneur menjadi kolaboratif. Anda
tidak bisa bekerja sendiri di pergerakan dengan kecepatan
seperti ini. Internet memungkinkan Anda melibatkan banyak
pemilik perusahaan dalam setiap langkah. Mulai dari kelahiran
sebuah produk melalui riset, pembangunan produk, pengemasan,
pengiriman, support dan proses perbaikan yang terus berjalan.
6. Jadilah Penggerak Distribusi.
Tantangan nyata dari dunia bisnis saat ini adalah distribusi
penyebaran merek serta identitas produk dan jasa Anda -.
Satu hal yang paling terasa, internet memperkecil hambatan
distribusi. Untuk itu, Anda harus membangun merek dan saluran
distribusi demi kesinambungan kesuksesan bisnis.
7. Fokus Pada Niche Market.
Internet menjangkau dan mendistribusi kesempatan bisnis pada pasar
baru yang terbuka. Karena itu, netpreneur harus memfokuskan pada
sektor pasar yang terdefinisi dengan baik -yaitu pada niche market
atau pasar ceruk- agar dapat meraih posisi dominan atau menemukan
pasar yang belum atau kurang terlayani. Walau kenyataannya,
kesempatan yang paling menggairahkan terletak pada menciptakan
pasar yang baru.
8. Jadilah Multidisipliner.
Perusahaan dalam era ekonomi baru seperti sekarang menciptakan
solusi dengan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu seperti
teknologi, content, grafis, layanan dan hubungan. Karena itu,
seorang netpreneur sukses biasanya memahami berbagai disiplin
ilmu.

dikutip dari : http://dahsyat-luarbiasa.com/blog/?p=79

Kamis, 14 Januari 2010

Sembahyang Mendekatkan Diri Kepada Yang Maha Kuasa

Alangkah senang, indah dan tenangnya hati ini  apabila kita dapat melakukan persembahyangan dengan mendekatkan diri kepada  Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Termasuk bagi umat lain sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Sebagai pemuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sembahyang dilakukan umat untuk memuja Tuhan. Banyak macam sembahyang, ditinjau dari kapan dilakukannya, dengan cara apa, dengan sarana apa dan di mana serta dengan siapa melakukannya. Kemantapan hati dalam melakukan sembahyang, membantu komunikasi yang lancar dan pemuasan rohani yang tiada terhingga. Kemantapan hati itu hanya dapat kita peroleh apabila kita yakin bahwa cara sembahyang kita memang benar adanya, tahu makna yang terkandung dari setiap langkah dan cara.

Banyak sekali manfaat sembahyang tersebut, selain sebagai kewajiban umat beragama untuk dan dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan, sembahyang bermanfaat untuk kesehatan, bersembahyang dan berdoa juga mendidik kita untuk memiliki sifat ikhlas karena apa yang ada di dalam diri dan di luar diri kita tidak ada yang kekal, cepat lambat akan kita tinggalkan atau berpisah dengan diri kita. Keikhlasan inilah yang dapat meringankan rasa penderitaan yang kita alami karena kita telah paham benar akan kehendak Tuhan/Hyang Widhi. Bersembahyang juga dapat menentramkan jiwa karena adanya keyakinan bahwa Tuhan selalu akan melindungi umatNya.

Dalam menjalani kehidupan tentu kita tidak pernah lepas dari permasalahan dan cobaan yang melanda hidup ini. Cobaan dan masalah tersebut tidak memandang seseorang. Datangnya secara tiba-tiba atau tidak terkira yang membuat orang yang mengalaminya harus pintar-pintar untuk menjalani, melalui sehingga dapat terlepas dan mengatasi permasalahan tersebut dengan arif dan bijaksana. Disaat kita sedang dalam kondisi yang kurang menguntungkan, alangkah baiknya kita memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan jalan yang terang untuk mengahadapi semua itu. Berdoa, sembahyang sesuai agama dan kepercayaan akan dapat menenangkan jiwa dan raga. Dan alangkah baiknya disetiap saat tanpa memandang kondisi apapun, tidak hanya ketika dirundung masalah atau tidak sehingga kita akan terbiasa selalu berhubungan dengan Tuhan sesuai kepercayaan masing-masing. Saya kira semua agama mengajarkan seperti itu.

Semoga postingan ini dapat memotivasi, menambah kemantapan / keteguhan hati terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa dan kehidupan kita  berubah menjadi lebih baik